Meskipun seringkali disampaikan dengan guyonan, pesan-pesan KH
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, selalu mengandung pesan yang dalam dan ilmiah.
Kecerdasan cucu KH. Hasyim Asy’ari itu memang tak terbantahkan, sehingga apa
yang disampaikan beliau selalu menjadi rujukan tidak hanya kaum Nahdhiyin.
Sampai-sampai beliau disebut-sebut bagaikan perpustakaan berjalan.
Dan berikut salah satu guyonan Gus Dur tentang dialog antar Sunni dan
Wahabi. Seperti diketahui, dua kelompok ini selalu berselisih dalam hal aqidah
dan pemahaman tentang Islam :
WAHABI: “Apa dalil yang Anda gunakan dalam Tahlilan, sehingga komposisi bacaannya beragam atau campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an, sholawat dan lain-lain?”
SUNNI: “Mengapa Anda menanyakan dalil? Apa pentingnya dalil bagi Anda, sedang Anda tidak mau Tahlilan?”
WAHABI: “Apa dalil yang Anda gunakan dalam Tahlilan, sehingga komposisi bacaannya beragam atau campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an, sholawat dan lain-lain?”
SUNNI: “Mengapa Anda menanyakan dalil? Apa pentingnya dalil bagi Anda, sedang Anda tidak mau Tahlilan?”
WAHABI: “Kalau Tahlilan tidak ada dalilnya berarti bid’ah donk. Jangan
Anda lakukan!”
SUNNI: “Sekarang saya balik tanya, adakah dalil yang melarang bacaan
campuran seperti Tahlilan?”
WAHABI: “Ya tidak ada.”
WAHABI: “Ya tidak ada.”
SUNNI: “Kalau tidak ada dalil yang melarang, berarti pendapat Anda yang
membid’ahkan Tahlilan jelas bid’ah. Melarang amal shaleh yang tidak dilarang
dalam agama.Kalau Anda tidak setuju dengan komposisi bacaan
dalam Tahlilan, sekarang saya tanya kepada Anda, bacaan dalam sholat itu satu
macam atau campuran?”
WAHABI: “Ya, campuran dan lengkap.”
SUNNI: “Berarti bacaan campuran itu ada contohnya dalam agama, yaitu
sholat. Kalau begitu mengapa Anda masih tidak mau Tahlilan?”
WAHABI: “Kalau sholat kan memang ada tuntunan dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau campuran dalam Tahlilan kan tidak ada
tuntunan?”
SUNNI: “Itu artinya, agama tidak menafikan dan tidak melarang dzikir dengan komposisi campuran seperti Tahlilan, dan dicontohkan dengan sholat. Sedangkan pernyataan Anda, bahwa dzikir campuran di luar sholat seperti Tahlilan, tidak ada dalilnya, itu karena Anda baru belajar ilmu agama. Coba perhatikan hadits ini:
“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang selalu mengadakan
perjalanan mencari majelis-majelis dzikir. Apabila para malaikat itu mendatangi
orang-orang yang sedang berdzikir dan mengelilingi mereka, maka mereka mengutus
pemimpin mereka ke langit menuju Tuhan Maha Agung – Yang Maha Suci dan Maha
Luhur. Para malaikat itu berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah mendatangi
hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, menbaca kitab-Mu,
bershalawat kepada nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memohon
kepada-Mu akhirat dan dunia mereka.” Lalu Allah menjawab: “Naungi mereka dengan
rahmat-Ku.” Lalu para malaikat itu berkata: “Di antara mereka terdapat si fulan
yang banyak dosanya, ia hanya kebetulan lewat lalu mendatangi mereka.” Lalu
Allah – Yang Maha Suci dan Maha Luhur – menjawab: “Naungi mereka dengan
rahmat-Ku, mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk
bersama mereka.” (HR. al-Bazzar. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’
al-Zawaid [16769, juz 10, hal. 77]: “Sanad hadits ini hasan.” Menurut al-Hafizh
Ibnu Hajar, hadits ini shahih atau hasan).
Hadits di atas menjadi dalil keutamaan dzikir berjamaah, dan isi bacaannya juga campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat.”
Hadits di atas menjadi dalil keutamaan dzikir berjamaah, dan isi bacaannya juga campuran, ada dzikir, ayat-ayat al-Qur’an dan sholawat.”
WAHABI: “Owh, iya ya.”
SUNNI: “Makanya, jangan suka usil. Belajar dulu yang rajin kepada para
Kiai dan ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Jangan belajar kepada kaum Wahabi yang
sedikit-sedikit bilang bid’ah dan syirik.”
WAHABI: “Terima kasih”.
SUNNI: “Menurut Anda, Syaikh Ibnu Taimiyah itu bagaimana?”
WAHABI: “Beliau Syaikhul-Islam di kalangan kami yang Anda sebut Wahabi.
Pendapat beliau pasti kami ikuti.”
SUNNI: “Syaikh Ibnu Taimiyah justru menganjurkan Tahlilan dalam
fatwanya. Beliau berkata:
“Ibnu Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.?” Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).
Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah di atas memberikan kesimpulan bahwa dzikir berjamaah dengan komposisi bacaan yang beragam antara ayat al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, shalawat dan lain-lain seperti yang terdapat dalam tradisi tahlilan adalah amal shaleh dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu.
WAHABI: “Lho, ternyata beliau juga menganjurkan Tahlilan ya. Owh terima kasih kalau begitu. Sejak saat ini, saya akan ikut jamaah Yasinan dan Tahlilan. Ternyata ajaran Wahabi tidak punya dalil, kecuali hawa nafsu yang selalu mereka ikuti.”
Sumber :serambimata.com
WAHABI: “Lho, ternyata beliau juga menganjurkan Tahlilan ya. Owh terima kasih kalau begitu. Sejak saat ini, saya akan ikut jamaah Yasinan dan Tahlilan. Ternyata ajaran Wahabi tidak punya dalil, kecuali hawa nafsu yang selalu mereka ikuti.”
Sumber :serambimata.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar